EO Community : Komunitas Event Organizer Indonesia | Meet, Share & Discuss |



Post Reply 
 
Thread Rating:
  • 3 Votes - 2.67 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
 
Kedai Digital, Gali Ide dan Kreativitas Semau Kamoe
 
Share to: Facebook Twitter StumbleUpon Send
 to Google Buzz Send to LinkedIn
Author Message
EyangSubur Offline
๑۩۩»»ÉÖcer's««۩۩๑
EOcer's

Posts: 188
Joined: Nov 2010
Reputation: 46
  

 
Post: #1
Kedai Digital, Gali Ide dan Kreativitas Semau Kamoe

[Image: sbAPRILSAPTUARI1.jpg]

Lewat ide-ide yang menggelitik, lahirlah Kedai Digital. Berbekal ide kreatif semau kamoe, owner kedai digital Saptuari Sugiharto pun mengejawantahkannya dalam produk merchandise. Apapun idemu, segila apapun itu, merchandise apapun bisa terlahir. Sebut saja mug, photo keramik, poster, bantal mobil, pin, jam keramik, tas, id card, pin 3 dimensi, gantungan kunci, kaos, member card, bantal duduk, dan puluhan merchandise lainnya pun bisa tersaji. Dari yang konsepnya corporate merchandise hingga personal merchandise.

Konsep bisnis ini ternyata tidak hanya sekadar menarik bagi customer. Bisnis pun berkembang dan terus melebar dengan konsep kemitraan. Alhasil, memasuki tahun ke-5, Kedai Digital telah memiliki 35 mitra yang tersebar di berbagai wilayah. Dua brand bisnis pun disodorkan ke calon mitra. Diantaranya adalah Kedai Digital fokus di produk merchandise, dan Kedai Digital Cutting yang fokus di produk kaos cutting.
[Image: sbAPRILkedai-digital2bw.jpg]
Sementara untuk mengakomodir tingginya kebutuhan bahan baku termasuk dari mitra-mitra bisnis yang ada, manajemen pun melahirkan Kedai Digital Supplies yang berada di Yogyakarta dan Malang. Hal yang sama pun dilakukan untuk menjawab kebutuhan SDM. Bekerja sama dengan salah satu institusi pendidikan, Saptuari Sugiharto pun mengembangkan Kedai Digital Institute. Kesiapan bisnis dari hulu hingga hilir inipun praktis membuat Kedai Digital pun semakin kokoh.

“Saya memulai usaha Kedai Digital bukan dari nol, tapi dari minus. Soalnya hampir 100 persen modal saya dapatkan dari hutang di bank. Motor butut dan rumah milik ibu saya serta semua suratnya saya sekolahkan di bank. Nekat, tapi justru inilah sumber energi terbesar saya untuk berwirausaha. Orang kalau sudah kepepet, terpaksa untuk kreatif, berfikir dan bergerak jauh lebih cepat dari mereka yang tidak kepepet,” kata pria kelahiran Yogyakarta 8 September 1979 ini.

Ya, dalam berbisnis, pria bertubuh subur ini memang terbilang nekat. Dengan setengah berkelakar, kepada Spirit Bisnis Saptuari mengatakan bahwa dirinya terbilang pengusaha yang paling gatel seandainya memiliki BPKB kendaraan ataupun sertifi kat tanah yang ‘nganggur’. Jika ada, pria berkaca mata ini pun akan langsung buru-buru menjadikannya sebagai jaminan pinjaman ke bank. Bagi Saptuari, kehadiran bank atau lembaga keuangan adalah untuk memberikan bantuan permodalan kepada pengusaha yang membutuhkan modal. Prinsipnya tentu adalah tetap menjaga kepercayaan dari perbankan sehingga konsep visible dan bankable terpenuhi.

Lantas bagaimana hutang ke bank bisa menghidupi dan mengembangkan bisnis hingga menggurita saat ini? Diakui Saptuari, omzet bagi dirinya adalah nomor sekian. Yang menjadi perhatian utamanya adalah memutar modal yang hampir 100 persen pinjaman dari bank tersebut. “Bagi saya sendiri, yang penting bisnis bisa berputar, produk laku dijual, karyawan bisa menerima gaji tepat waktu, cicilan bank terbayar dan plafon pinjaman untuk usaha naik, sehingga usaha berkembang. Itu sudah merupakan kebahagian yang luar biasa,” tandasnya.

Melihat bisnisnya tumbuh dan bisa mengurangi beban pengangguran, Saptuari mengaku sudah cukup senang. Dia juga bangga, tujuannya tercapai. “Sebab, sejak semula saya berprinsip bisnis untuk ibadah. Konsep kemitraan yang kita tawarkan pun bukan hanya untuk kurun berapa tahun, tapi seumur hidup. Tidak ada fee ke manajemen, yang ada adalah 2,5 persen dari omzet kotor diberikan ke manajemen. Tapi 2,5 persen itu adalah untuk sedekah, tidak masuk ke manajemen. Hitung-hitung adalah untuk berbagi dengan sesama”, katanya.

Untuk menjalin kerjasama bisnis dengan Kedai Digital, menurut Saptuari pihaknya mengeluarkan sejumlah alternatif pilihan. Diantaranya adalah mitra bisnis dengan brand Kedai Digital dan Kedai Cutting serta mitra independen yang berlaku untuk kedua brand. Bagi masing-masing kerjasama kemitraan tersebut, menurut Saptuari benefi t yang ditawarkan serta join fee yang diberlakukan pun berbeda. Join fee untuk mitra brand kedai digital adalah Rp 50 juta dan kedai cutting Rp 40 juta. Sementara untuk mitra independen, baik untuk kedai digital maupun kedai cutting hanya diberlakukan join fee sebesar Rp 20 juta. “Ini lebih ke pilihan alternatif bermitra. Namanya mitra independen, praktis mereka harus gunakan brand sendiri, bukan Kedai Digital. Hanya sistemnya saja yang menganut seperti Kedai Digital. Fasilitas yang diberikan ke mitra pun berbeda,” ujarnya. (Irs)
[Image: KD.jpg]


11-20-2010 03:56 PM
Find all posts by this user Quote this message in a reply

Post Reply