EO Community : Komunitas Event Organizer Indonesia | Meet, Share & Discuss |



Post Reply 
 
Thread Rating:
  • 4 Votes - 3.75 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
 
Joget Sang Milyuner Dawet, Dari Es Cendol ke Restoran
 
Share to: Facebook Twitter StumbleUpon Send
 to Google Buzz Send to LinkedIn
Author Message
EyangSubur Offline
๑۩۩»»ÉÖcer's««۩۩๑
EOcer's

Posts: 188
Joined: Nov 2010
Reputation: 46
  

 
Post: #1
Joget Sang Milyuner Dawet, Dari Es Cendol ke Restoran

[Image: Es-Cendol-Geboy.jpg]

“Dulu gaji saya sebagai dosen dan konsultan hanya Rp 1,8 juta perbulan. Kini, pendapatan saya mencapai 10-15 kali lipatnya,” ucap Agus dengan penuh syukur.

Perjalanan hidup, memang tak bisa diramal. Pun bagi Agus Kusmayadi kelahiran Bandung 15 September 1967. Agus, demikian ayah dua putra ini biasa disapa, menamatkan pendidikan sarjananya di Jurusan Sosiologi Fisipol UGM tahun 1995. Berpenampilan sederhana dan suka ngomong ceplas ceplos apa adanya menjadi keseharian Agus. Bahkan, bergaul lebih akrab dengannya, makin menyimpulkan bila sosok satu ini memang termasuk orang yang tidak suka kemapanan tapi jauh dari idealisme. Keputusannya untuk keluar dari pekerjaan sebagai dosen di sebuah perguruan tinggi di Bogor bisa jadi salah satu buktinya. Terlebih, ketika Agus keluar, bukannya lantas bekerja di tempat lain yang bisa dianggap “lebih baik”. Sebaliknya, Agus diluar dugaan justru memilih banting stir menjadi seorang penjual dawet. Sungguh perubahan drastis yang amat sulit dilakukan orang kebanyakan.

Ini termasuk kisah yang unik, dan barangkali masih jarang terjadi di negara ini. Kebanyakan orang pilih kerja enak, berdasi dan duduk di kursi yang empuk. Agus bukannya tidak berusaha menyesuaikan diri dengan kehidupan dosen. Ia sudah berusaha, tetapi hasilnya tidak sesuai dengan idealismenya. Bagi Agus, kalau seseorang sudah memilih jadi dosen, seharusnya dia bersih dan mengutamakan pengabdian kepada mahasiswa. “Tetapi, di tempat saya mengajar para dosennya rebutan proyek. Mereka mengutamakan mencari uang,” beber Agus. Agus tidak suka dengan keadaan yang “mendua” itu. Agus memberontak. “Kalau memang ingin cari uang, marilah berwiraswasta,” ajak Agus pada koleganya. Sebelum jualan dawet, sebenarnya Agus sudah mencoba berbagai macam usaha, seperti buka warung makan, jualan pakaian, buka kios koran dan majalah, dagang sayuran, jualan makanan-makanan kecil, dan pernah juga mendirikan sebuah lembaga pendidikan, tetapi ini semua mengalami kegagalan. Setelah mencoba berbagai usaha, akhirnya kini Agus sukses dengan berjualan dawet. Dengan berjualan dawet ini, kini keuntungan Agus perhari sudah mencapai satu juta lebih. “Dulu gaji saya sebagai dosen dan konsultan hanya Rp 1,8 juta perbulan. Kini, pendapatan saya mencapai 10-15 kali lipatnya,” ucap Agus dengan penuh syukur.

Ketika pertama kali berjualan dawet di Yogya, Agus merasa minder. Rasa percaya dirinya runtuh ketika melihat teman temannya sukses di lembaga pemerintahan. Apalagi keluarga mertuanya yang asli Yogyakarta tidak setuju Agus menjadi penjual dawet. Bagi mertua dan keluarganya, menjadi penjual dawet dianggap memalukan. “Untung istri dan anak saya mendukung. Dengan dukungan ini, perlahan-lahan kepercayaan diri saya mulai tumbuh lagi,” beber Agus. Modal pertama Agus hanya tiga ratus ribu rupiah, itu saja uang dari menjual tape recorder miliknya. Agus mulai jualan dawet pada bulan puasa 1997 dengan menggunakan VW Combi di depan Wisma Kagama UGM. Agus memberi nama ”Si Geboy” untuk dawetnya. Kata Geboy berasal dari bahasa Sunda. Nama ini sengaja dipilih Agus untuk memberi kesan lucu dan mudah diingat. Setelah dawetnya memperoleh sambutan pembeli, Agus mulai membuka tiga outlet, yaitu di Toko Progo Yogya, Toko Makmur Jaya, dan Alfa Gudang Rabat Yogya.

Lewat perjalanan yang penuh perjuangan, kini Agus memiliki delapan outlet dawet di Yogyakarta. Lima outlet yang terakhir adalah: Toko Roti Merdeka, Toko Mirota Gamping, Toko Indogrosir, Depan PLN Banteng, dan Geboy mobil di Jalan Kaliurang. Untuk mengurusi semua proses produksi dan penjualan dawetnya, kini Agus dibantu oleh 30 karyawan. ”Semua karyawan, saya gaji per bulan menurut UMR, dan di samping itu mereka masih mendapat asuransi kesehatan secara gratis,” masih kata Agus. Bahkan, dari dawet atau cendol, Agus sekarang juga mulai mengembangkan restoran khas Sunda yang diberi nama Baraya Sunda. Pengembangan usaha dari cendol ke rumah makan ini, tak lain untuk mengejawantahkan idealisme Agus lainnya, yakni untuk berbagi dan membantu mereka yang membutuhkan uluran tangan. Lewat pengembangan usaha ini, Agus, bukan saja ingin menyediakan lapangan kerja yang lebih luas untuk penganggur, tapi juga ingin membantu para pemilik tempat dan pemilik modal yang ingin menggeluti usaha rumah makan Sunda.

”Konsep yang saya kembangkan adalah kerjama atau kemitraan. Yang punya tempat dan modal tapi belum memiliki kemampuan dan pengalaman membuka restoran, kita yang membantu mengembangkannya dengan sistem bagi hasil. Prinsipnya adalah semua untung,” katanya. Agus telah melewati perjalanan panjang yang tidak mudah untuk mencapai taraf seperti sekarang. Kini, Agus telah menyediakan lapangan pekerjaan buat orang banyak. Agus telah memiliki armada yang terdiri atas tiga mobil pick up dan sepuluh sepeda motor. Agus bisa menjual dawet sebanyak 4.000 gelas per hari. Dan yang perlu kita acungi jempol untuk Agus, meskipun kini Agus sudah menjadi orang sukses, Agus tidak melupakan kaum miskin di sekitar tempat tinggalnya. Agus selalu mengeluarkan sebagian dari hartanya untuk masyarakat sekitar tempat tinggalnya. Sebagian keuntungan dari usaha jualan dawet ini oleh Agus digunakan untuk membangun TPA ”Jannatul Muslimin”, yang dikelola oleh istrinya, Dyah Puspitasari, yang alumni Jurusan Ilmu Komunikasi FISIPOL UGM. ”Saya ingin mencerdaskan anak-anak di sekitar saya lewat TPA Jannatul Muslimin,” ujar bapak yang punya motto ”Hartanya orang miskin adalah Harga diri”. (sw)


11-20-2010 04:10 PM
Find all posts by this user Quote this message in a reply

damarsaloka Offline
๑۩۩»»ÉÖcer's««۩۩๑
EOcer's

Posts: 870
Joined: Nov 2010
Reputation: 68
  

 
Post: #2
RE: Joget Sang Milyuner Dawet, Dari Es Cendol ke Restoran
wah, ini namanya hasil dari perjuangan panjang :seyum


11-20-2010 08:39 PM
Visit this user's website Find all posts by this user Quote this message in a reply

Post Reply