EO Community : Komunitas Event Organizer Indonesia | Meet, Share & Discuss |



Post Reply 
 
Thread Rating:
  • 1 Votes - 1 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
 
Film HD dari Kamera Digital
 
Share to: Facebook Twitter StumbleUpon Send
 to Google Buzz Send to LinkedIn
Author Message
MotionsArt Offline
Sobat Baru

Posts: 20
Joined: Oct 2010
Reputation: 1
  

 
Post: #1
Thumbs Up Film HD dari Kamera Digital

Sebelumnya banyak orang tidak percaya bahwa rekaman video yang dibuat Philip Bloom ternyata hanya menggunakan kamera digital. Pasalnya, video yang dihasilkannya beresolusi tinggi (HD) dengan detil yang bagus (yang biasanya hanya bisa diperoleh dengan camcorder kelas atas).

Bloom sendiri (yang kesehariannya membuat foto dan film untuk keperluan sosial dan komersial di berbagai negara) mengakui bahwa keahliannya di bidang sinematografi banyak tertolong oleh teknologi yang dihadirkan kamera dan camcorder modern. Belakangan, Bloom kerap membuat video beresolusi HD via sebuah kamera digital saja. Pasalnya, menurutnya kualitas video kamera digital telah mampu menyaingi camcorder.

[Image: laput-cam-06-10-ilus.jpg]

Bagaimanapun juga fungsi utama sebuah kamera digital tentu saja untuk merekam gambar diam (foto), bukan bergerak (video). Namun sistem digital agaknya mulai mengaburkan pemisahan fungsi “diam” dan “bergerak”. Memang akan lebih praktis jika kedua fungsi ini tersedia dalam sebuah perangkat. Tak heran jika kini camcorder digital pun bisa dipakai memotret. Demikian juga sebaliknya dengan kamera digital yang bisa dipakai merekam gambar bergerak. Banyak pula yang berpendapat bahwa membawa sebuah kamera digital akan lebih praktis dibandingkan membawas camcorder yang lekuknya kurang ergonomis. InfoKomputer sendiri setuju dengan pendapat tersebut, dengan catatan bahwa fungsi memotret pada kamera digital merupakan hal utama.

[Image: laput-cam-06-10-recvideo.jpg]
Merekam dalam format video HD memungkinkan gambar terlihat lebih detil dan luas.


Video HD di Kamera
Seiring dengan meningkatnya tren high-definition dalam aspek audio-video, teknologi HD pun mulai diadopsi produk kamera digital. Mengapa demikian? Seperti kita tahu, produk LCD TV serta player DVD atau Blu-ray menjadi pemacu gejala HD yang demikian kuat (sehingga orang bisa menikmati tayangan HD yang lebih bersih dan tajam). Sudah barang tentu camcorder digital (yang mampu merekam dalam standar HD atau bahkan Full-HD) menjadi produk berikutnya yang ikut populer di mata konsumen. Ini kemudian diikuti oleh kamera digital yang tidak mau ketinggalan membenamkan feature HD.

Sebenarnya alasan utama HD muncul di kamera digital disebabkan tuntutan konsumen sendiri (yang ingin menikmati hasil foto dan juga video di layar besar semacam TV). Layar pada LCD TV sendiri mensyaratkan resolusi video yang sesuai. Tujuannya, agar hasilnya enak dilihat (tidak gepeng atau cekung). Untuk resolusi HD dalam besaran 1280 x 720 pixel, tampilan akan terasa pas jika dilihat dalam rasio layar 16:9. Ini sangat berbeda jika Anda menampilkannya dalam resolusi VGA (640 x 480) pada LCD TV berukuran 32” ke atas.

[Image: laput-cam-06-10-resolusi.jpg]
Perbandingan resolusi NTSC (pink), PAL (kuning), HD (hijau), dan Full-HD (ungu).”


Untuk sementara, resolusi HD yang umumnya dianut kamera digital adalah 720p. Artinya kamera digital tersebut mampu merekam film HD dalam resolusi 1280 x 720 pixel. Resolusi ini jelas lebih baik dibandingkan kerapatan 640 x 480 (VGA) atau 320 x 240 (QVGA) yang sebelumnya umum dipakai. Itulah sebabnya foto dan video dalam kualitas 480 pixel ke bawah masih layak dilihat pada TV model tabung (dengan resolusi 480 garis horisontal). Sebagai informasi, TV tabung dengan sistem NTSC (standar Amerika) memiliki resolusi 525 garis. Namun displai efektifnya hanya 480 baris. Sementara sistem PAL (kebanyakan di wilayah Asia) beresolusi 625 garis dengan displai efektif 576 baris. Jika resolusi foto/video lebih tinggi lagi, tampilannya akan lebih ideal disaksikan pada LCD TV atau monitor untuk PC (dengan adaptasi resolusi lebih tinggi).

Tambahan feature HD Movie agaknya menjadi ambisi kamera untuk memiliki kemampuan camcorder digital. Ini tentunya harus dibayar dengan ruang simpan yang cukup besar. Solusinya sudah ada berkat standar kompresi MPEG4-AVC atau code H.264 yang memungkinkan file video HD "ditekan" hingga 3x lebih kecil dari format MPEG2. Untungnya, harga keping kartu memori SD dalam kapasitas gigabyte (GB) semakin murah. Ini mengingat kartu memori SDHC paling populer dan banyak diadopsi banyak gadget digital.

Dalam bahasan ini, kami tampilkan ulasan mengenai beberapa kamera digital model kompak yang telah mengusung feature HD Movie di dalamnya. Kesemua kamera ini biasa dipromosikan pihak penjual dengan kemampuan video HD tanpa menjelaskan detailnya. Untuk itulah kami mencoba keampuhan feature HD mereka sebagai perbandingan.

[Image: laput-cam-06-10-kodak-m575.jpg]
Kodak EasyShare M575

Di antara merek populer lainnya, harga produk Kodak terbilang paling terjangkau sehingga banyak disukai yang dananya terbatas. Tengok saja harga seri EasyShare M575 yang berkisar di bawah 2 juta ini. Dengan resolusi hingga 14 megapixel (14MP), produk ini memiliki fasilitas unggulan Share. Fasilitas ini berguna untuk membagi-pakai foto dan video ke situs YouTube, Facebook, flickr, dan Kodak Gallery.

Pada modus video HD, M575 memakai format AVCHD-Lite profil baseline L3.1 dengan kisaran bitrate 9 Mbps. File yang dihasilkannya berupa standar MOV (QuickTime) dengan kualitas video yang cukup lumayan. Sayangnya terdapat banyak kelemahan seperti sistem zoom optis yang terpatah-patah dan distorsi dari lensa Schneider yang digunakan. Efek umum distorsi barrel juga masih tampak jelas di bagian sisi video sehingga kurang menampakkan bagian kiri-kanan secara tepat.

[Image: laput-cam-06-10-olympus-7040.jpg]
Olympus Mju-7040

Jajaran µ (dibaca “mju”) dari Olympus dikenal sebagai model kompak yang bergaya namun tetap mengusung teknologi foto terbaru. Ini terlihat pada desain seri Mju-7040. Kamera mengandalkan penstabil image ganda untuk mendapatkan citra yang bersih dan tajam meskipun feature ini kurang ditonjolkan pada bagian movie. Satu kelebihannya adalah kapasitas memori internal 2 GB yang terbilang tertinggi di antara produk yang kami coba. Besaran ini setidaknya amat melegakan manakala kita lupa membawa kartu memori.

Sebenarnya cukup aneh melihat ketimpangan Mju-7040. Untuk modus foto, hasil yang didapatkan terbilang memuaskan. Sayangnya ini berbanding terbalik dengan kualitas video. Video dengan bitrate 12 Mbps terlihat kurang baik dan sistem pereduksi noise yang ada malah terkesan menurunkan detil citra yang dihasilkannya. Sayangnya lagi, saat merekam film, ternyata fungsi zoom malah tidak bisa diaktifkan sehingga kita terpaksa mendekat ke obyek yang direkam untuk mendapatkan image yang lebih rinci.
[Image: laput-cam-06-10-casio-z90.jpg]
Casio Exilim EX-Z90

Setelah menghadirkan feature movie dalam resolusi wide (yang bisa dibilang nyaris HD), Casio menghadirkan Exilim EX-Z90 mereka yang kini resmi menyandang feature HD Movie. Sepertinya, inilah feature unggulan yang melengkapi berbagai fasilitas khas jajaran Exilim yang terkenal mudah digunakan dan memiliki sistem koreksi foto yang cukup menarik. Salah satu feature unik di kamera beresolusi 12 MP ini adalah Make-up Mode, Gunanya memperbaiki wajah obyek foto atau bisa disebut juga mempercantik wajah orang yang difoto. Unik bukan?

Dalam hal kemampuan videonya, EX-Z90 ternyata menerapkan kompresi video M-JPEG tipe lama dengan bitrate 22 Mbps. Formula ini menghasilkan video yang umumnya terlihat bagus namun berukuran cukup besar. Kekurangan muncul pada pencahayaan yang kurang stabil, ketidakmampuan zoom saat merekam video, dan pola audio berkualitas mono. Namun dengan harga yang lebih terjangkau (termasuk dibandingkan dengan Kodak M575), Exilim EX-Z90 jelas lebih menarik dibandingkan produk lain.
[Image: laput-cam-06-10-canon-130.jpg]
Canon Ixus 130

Model imut-imut dari Canon ini disukai banyak orang karena mudah dibawa tanpa perlu menghabiskan banyak ruang. Ixus 130 (tanpa feature IS/Image Stabilizer) mengusung banyak feature mulai dari penstabil optis hingga beragam bidikan yang mudah. Pengolahan image juga dibantu prosesor DiGiC 4 untuk menghasilkan citra lebih sempurna. Jika dibandingkan dari sisi harga, kamera kecil ini terbilang mahal (lebih dari Rp3 juta) daripada kompetitor lainnya.

Kemampuan video HD Ixus 130 sudah bagus dan pengguna akan terbantu dengan setting video yang cukup lengkap. Namun karena memanfaatkan kompresi AVC baseline L4.1 dengan kisaran bitrate 23 Mbps, file MOV yang dihasilkan cukup besar (dengan kualitas film yang meningkat). Misalnya, untuk merekam film HD berdurasi 43 menit, akan diperlukan memori SD berkapasitas 8 GB (dengan kualitas suara mono).
[Image: laput-cam-06-10-nikon-s8000.jpg]
Nikon Coolpix S8000

Jika Canon dianggap terlalu mahal, konsumen cenderung berpaling ke Nikon. Salah satu varian baru yang mengusung HD Movie muncul di seri Coolpix S8000 (dengan harga di bawah Rp3 juta). Kamera dengan LCD besar 3” ini juga menawarkan zoom optis 10x, termasuk tinggi di kelas kompak. Nikon juga mengandalkan teknologi shift Vibration Reduction (VR) untuk meminimalkan goncangan.

Meski memakai profil kompresi seperti pada Kodak M575, Nikon menerapkan bitrate sebesar 8,2 Mbps. Akibatnya, file yang dihasilkannya bisa berukuran lebih kecil. Kamera pun dapat melakukan zoom digital saat merekam film meskipun hal ini tidak begitu diperlukan dibandingkan zoom optis. Sistem pereduksi noise membuat video tampil baik namun menghasilkan tampilan yang cenderung halus atau mengaburkan detil.
[Image: laput-cam-06-10-sony-w350.jpg]
Sony Cyber-shot W350

Belakangan ini, kamera Sony banyak mengalami kemajuan sehingga bisa lebih bersaing dengan pemain kawakan lainnya. Salah satu model kompak 14 MP dirilis Sony lewat seri Cyber-shot W350. Kamera ini sebenarnya difokuskan untuk memotret bidang panorama atau landscape. Bobotnya paling ringan (kurang dari 120 gram) dibandingkan produk lainnya. Di sini Sony membanggakan sensor CCD Super HAD dan prosesor BIONZ yang biasa diimplementasikan pada camcorder mereka.

Agar lebih fleksibel, seri ini membolehkan penggunaan 2 tipe kartu memori (SD dan MS PRO Duo) untuk menyimpan foto dan video. Video HD yang dihasilkan memakai profil kompresi L4-Sony PSP (dengan bitrate 9 Mbps) yang mereka kembangkan sendiri. Hasil rekaman sendiri sebenarnya lebih bagus dibandingkan pesaing lainnya meskipun sering muncul artifak yang diakibatkan sistem kompresi yang kurang sempurna. Selain itu, lensa Carl-Zeiss yang digunakan pun sedikit menyumbangkan distorsi pada gambar meskipun hal ini tidak terlalu signifikan.


sumber
infocomputer.com


10-19-2010 09:25 PM
Find all posts by this user Quote this message in a reply

Event_Organizer_Ind Offline
๑۩۩»»ÉÖcer's««۩۩๑
EOcer's

Posts: 204
Joined: Oct 2010
Reputation: 5
  

 
Post: #2
RE: Film HD dari Kamera Digital
wihhh detil banget penjelasanya, jadi namabh ilmu dech


10-20-2010 10:46 PM
Find all posts by this user Quote this message in a reply

Post Reply 


Possibly Related Threads...
Thread: Author Replies: Views: Last Post
  Digital Art (definisi Seni Digital) Gogol_HT 0 8,692 05-14-2011 11:21 AM
Last Post: Gogol_HT